Rabu, 16 September 2015

DIALOG SYI’AH & KRISTEN



Seorang aktifis syi'ah dengan semangatnya mengajak seorang aktifis Kristen untuk masuk syi'ah (walaupun agak mustahil mereka mendakwahi agama lain), maka terjadilah dialog berikut:

SYI'AH : Kalian kaum Kristen mengklaim bahwa Kristus (Al-Masih) disalib demi menebus dosa warisan karena Nabi Adam memakan buah terlarang, sehingga manusia dikeluarkan dari surga. Padahal Allah Ta'ala telah berfirman :

وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain..” (QS. Al An'aam 164)

KRISTEN : Tahukah kalian bahwa kalian lebih parah lagi, kalian menyiksa diri dengan memukul-mukul tubuh kalian dan anak-anak kalian dengan rantai dan pisau, sampai darah bercucuran, sungguh perbuatan menakutkan dan menjijikkan.

Kalian melakukannya untuk menebus kesalahan kalian dulu, yang telah menghinakan Husein, dan tidak membelanya...

Lantas, apa bedanya ?



SYI'AH : Tetapi kalian terlalu ghuluw (ekstrimis), kalian mengangkat Isa Kristus (Al-Masih) sebagai anak Tuhan dan satu dari tiga tuhan (Trinitas) !

KRISTEN :Bukankah kalian juga demikian? Kalian ghuluw terhadap Husein, dan imam-imam ahlul bait lainnya, kalian mengklaim bahwa sebelum dunia diciptakan mereka berbentuk cahaya, mereka juga mengetahui semua apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

Kalian klaim bahwa mereka mengetahui kapan mereka wafat, dan mereka wafat sesuai dengan kemauan mereka sendiri !



Musa bin Ja'far (alaihissalaam) lalu berkata, "Apa pun yang Dia (al-Sindi) telah katakan tentang tempat dan hal-hal yang lainnya sebagaimana ia katakan. Bagaimanapun, Hai orang-orang, saya memberi tahu kalian bahwa saya akan diracuni tujuh kali esok hari saya akan berubah warna hijau dan esoknya. Saya akan mati. "Orang-orang mengatakan," Saya melihat al-Sindi bin Shahik. Dia menggigil ketakutan dan gemetar seperti daun cabang pohon palem. " (Al-Kafi oleh Kulaini H 671, Ch. 47, h 2)


SYI'AH: Yang penting, saya sarankan agar kau jangan menyembah Al-Masih, jangan namai anak-anakmu dengan Abdul Masih (hamba kristus), sebab Kristus (Al-Masih) sendiri adalah hamba Allah.

KRISTEN: Alaah.. jangan sok menasehati, bukankah kalian juga mengklaim bahwa Ali berkata: Aku adalah wajah Allah, aku di samping Allah, aku yang awal dan yang akhir, kalian juga menjuluki anak-anak kalian Abdul Hasan dan Abdul Husein, padahal mereka juga adalah hamba Allah.


(Lihat kitab berjudul
“Abu Hurayra” yang berisi hujatan dan fitnah terhadap Sahabat Nabi Abu Hurairah karangan ulamak syiah yang bernama Abdul Hussein Syarafiddin)

SYI'AH: Tetapi kelian mengharap dan memohon dari Kristus (Al-Masih) dan kalian tidak memohon kepada Allah, kalian berdo'a kepada mereka, dan kalian mengkultuskan para uskup dan pendeta.

KRISTEN: Ehh…, bukankah kalian juga memohon kepada selain Allah , kalian memohon : Yaa Ali.. ! Yaa Husein.., aku tidak tahu kapan kalian memohon kepada Tuhan kalian.

Kalian tawaf di kuburan imam-imam dan memohon kepada mereka, kalian mengklaim: barang siapa menziarahi makam Husein di hari arafah, maka ia mendapat pahala sejuta kali haji bersama al-Qa'im. Kalian juga mengklaim bahwa makam Ali selalu diziarahi oleh Allah bersama Malaikat, begitu juga para nabi !!



SYI'AH : Kalian terlalu melebih-lebihkan Kristus (Al-Masih) hingga kalian menyembahnya.

KRISTEN: Sama saja, kalian juga terlalu melebih-lebihkan Husein dan imam-imam lainnya, kalian mengangkat mereka melebihi derajat para nabi, dan mereka berada di posisi yang tidak akan bisa dicapai oleh siapapun, baik Malikat, tidak pula rasul. Mereka ma'shum dari lupa dan dosa, mereka mengetahui semua yang di langit dan di bumi.

Jadi, Kristus (Al-Masih) kami sama saja dengan Al-Husein kalian !


"Sesungguhnya di antara hal yang termasuk paling urgen dalam madzhab kami, bahwasanya imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh para malaikat yang didekatkan dan tidak pula para nabi yang diutus.... Telah diriwayatkan dari mereka 'alaihimus salam (imam-imam Syiah) "Bagi kami keadaan-keadaan tertentu bersama Allah yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat yang didekatkan, demikian pula para nabi yang diutus." (al-Hukumah al-Islamiyah hal. 52, oleh Imam Khomeini).


[lihat
Islamic Government (al-Hukumah al-Islamiyah) by Imam Khomeini, Section 3: The Form of Islamic Government]

SYI'AH: Tapi kalian melewati batas, dengan meyakini bahwa mencintai Kristus (Al-Masih) dan mengimaninya saja, cukup untuk menyelmatkan kalian dari neraka.

KRISTEN: Kalian juga begitu, hanya dengan mencintai ahlul bait, cukup sebagai kaffarat dan penyelamat. Dosa tidak akan membahayakan siapapun yang mencintai ahlul bait. Kalian juga mengatakan : Cinta ahlul bait akan menggugurkan semua dosa, sebagai mana gugurnya dedaunan pepohonan. Cinta Ali adalah kebaikan, yang tidak mempengaruhinya dosa apapun!

SYI'AH (dengan marah): Tapi, kitab kalian telah diubah, ditambahi dan dikurangi !

KRISTEN: Nah.., kalian para syi'ah mengklaim bahwa Al-Qur'an kalian telah diubah, sahabat Nabi telah menambah dan menguranginya. Teks aslinya hanya ada pada imam Mahdi yang bersembunyi di Sirdab saat umurnya lima tahun, dengan demikian menurut kalian semua muslim sesat sejak 1400 tahun silam !

SYI'AH: Sudahlah, yang penting kau mau masuk Islam, dengan loyal kepada ahlul bait dan menjadi syi'ah sejati ?!

KRISTEN: Menurutku bukanlah ini Islam yang dianut oleh mayoritas manusia, besar-kecil, tua-muda, pria-wanita dari bangsaku (Muallaf Eropa). Karena tidak ada keistimewaan pada agama kalian (syi'ah)..

kontradiksi agama kalian jauh lebih banyak dari pada agama kami. Masih ada ndak sekte lain yang kalian tawarkan ?!?

Selasa, 08 September 2015

Perselisihan Pengikut Imam Syiah Ke-11


perselisihan_syiah_imamke11

Seorang ulama Syiah terkenal abad ke-3H, Hasan bin Musa al-Nawbakhti menulis sebuah karya penting berjudul Firaq al-Shia. Ulama rijal Syiah, al-Najashi berkomentar tentangnya “Syaikh kami, Sang Mutakallim yang unggul di masanya sebelum tahun 300H dan setelah itu”, kemudian dia menyebutkan 40 karyanya. al-Tusi juga berkomentar bahwa al-Nawbakhti adalah seorang Syiah taat.
Dalam kitab Firaq al-Shia, termuat sejarah perselisihan demi perselisihan yang terjadi antara pengikut imam Syiah, mulai dari pengikut imam ke-1 sampai imam ke-11. Tapi di artikel ini kami hanya akan mengutip sejarah perselisihan para pengikut imam ke-11, Hasan al-Askari yang terjadi setelah dia wafat.

Setelah wafatnya Hasan al-Askari, para pengikutnya terpecah menjadi 14 kelompok berbeda dan mayoritas percaya bahwa dia sama sekali tidak punya keturunan. Sebagian dari mereka bahkan ada yang kemudian tidak percaya bahwa dia adalah imam yang sebenarnya dikarenakan dia tidak memiliki anak. Dari 14 kelompok itu:
  • 9 kelompok percaya dia tidak punya anak
  • 1 kelompok ragu-ragu apakah dia punya anak atau tidak
  • 4 kelompok percaya dia punya anak
Dari 4 kelompok yang percaya dia punya anak pun terpecah menjadi:
  1. percaya anaknya lahir SEBELUM dia wafat
  2. percaya anaknya lahir SETELAH dia wafat
  3. percaya anaknya lahir, tapi kemudian WAFAT & nanti akan kembali bangkit
  4. percaya anaknya lahir kemudian gaib & MASIH HIDUP sampai sekarang (inilah kelompok yang sekarang dikenal dengan syiah 12 imam seperti di Iran)
Dari 14 kelompok pecahan itu, singkatnya memiliki kepercayaan sbb:
  1. Hasan hidup, dia adalah Mahdi (dia ngga punya anak)
  2. Hasan wafat (dia ngga punya anak) kemudian hidup kembali, lalu gaib. Dia adalah Mahdi
  3. Hasan wafat (dia ngga punya anak) & dia menunjuk Ja’far sebagai imam berikutnya
  4. Hasan wafat (dia ngga punya anak), imam sebenarnya bukan Hasan atau Muhammad (saudaranya yang wafat terlebih dulu), tapi imam adalah Ja’far (saudara imam ke-11) yang ditunjuk bapaknya.
  5. Hasan wafat (dia ngga punya anak), karena itu pengikutnya berubah dan berkata imam sebenarnya bukan Hasan ataupun Ja’far, tapi saudara mereka, Muhammad yang ditunjuk bapaknya sebelum dia wafat.
  6. Hasan wafat (punya anak lahir sebelum dia wafat), anaknya adalah Mahdi & bersembunyi karena takut kepada Ja’far dan penguasa.
  7. Hasan wafat (punya anak lahir setelah dia wafat), anaknya adalah Mahdi
  8. Hasan wafat (dia ngga punya anak), yang percaya dia punya anak hanya mengada-ada
  9. Hasan wafat (dia ngga punya anak) dan imamah akan disambung lagi setelah nanti Mahdi terlahir dari keturunannya.
  10. Hasan wafat (dia ngga punya anak) dan Abu Ja’far bin Ali adalah imam, bukan Hasan, Muhammad atau Ja’far
  11. Hasan wafat, tapi tidak tahu apakah imam berikutnya dari keturunan Hasan atau keturunan saudaranya yang lain
  12. Hasan wafat (punya anak), anaknya adalah Mahdi [inilah kelompok syiah 12 imam yang mayoritas saat ini di Iran]
  13. Hasan wafat (dia ngga punya anak), imam berikutnya adalah Ja’far
  14. Hasan wafat (punya anak), tapi anaknya wafat dan akan bangkit nanti [al-Nawbakhti tidak menulis kelompok ke-14 di kitabnya, tapi keterangan kelompok terakhir ini bisa ditemukan di kitab Fushul al Mukhtara karya Sharif Murtadha]
Jadi ternyata kepercayaan yang menurut Syiah teramat sangat penting untuk membimbing & menjaga umat dari kesesatan ternyata justru menjadi sumber kebingungan, perpecahan & sesatnya pengikut imam Syiah (artikel lain tentang bingungnya pengikut imam juga bisa disimak di artikel  “Syiah Punya Banyak Mahdi”)
Untuk lebih lengkap silakan baca Firaq al-Shia karya al Hasan bin Musa al-Nawbakhti.
sumber; http://antimajos.com

Senin, 07 September 2015

Syi'ah Berbuka Puasa Dengan Tanah Kuburan!!!

Disebutkan oleh dedengkot mereka, Asy-Syaikh Muhammad Hasan Al-Ishfahani dalam kitabnya Nurul 'Aini hal. 416 sbb:

الباب الثالث و الخمسون والمئتان 
استحباب الأفطار على التربة الحسينيّة 

عن علي بن محمد النوفلي قال لأبي الحسن عليه السلام : اني أفطرت يوم الفطر على طين القبر و تمر ؟ قال له جمعت بين بركة و سنّة 

فقه الرضا : أفضل ما يُفطر عليه طين من قبر الحسين عليه السلام

Bab 253
Disunnahkannya Berbuka Puasa Dengan Tanah Kuburan Husain

Dari 'Ali bin Muhammad An-Naufaliy berkata, berkata kepada Abi Al-Hasan 'alaihis salam : "Sesungguhnya aku berbuka puasa di harinya berbuka dengan tanah kuburan dan korma (bagaimana menurut anda) ?" Beliau menjawab "engkau telah menggabungkan antara berkah dan Sunnah" [Terdapat juga di : Al-Faqih 2/174, Al-Kafi 4/170, Al-Wasail 5/114, Al-Wafi 5/192, Jami' Ahadits Asy-Syi'ah 6/247]
Fiqh Ar-Ridha : "Seutama-utamanya sesuatu untuk dimakan tatkala berbuka puasa adalah tanah dari kuburan Husain 'alaihis salam" [Terdapat juga di Al-Mustadrak 1/429, Jami' Ahadits Asy-Syi'ah 6/248]



BANYOLAN KAUM SYI'AH, Periwayatan Keledai !!

Tidak diragukan lagi bahwa agama syi'ah adalah agama yang berisi kekonyolan, kontradiktif, khurofat, dan penuh dengan banyolan. Ini semua menunjukkan bahwa agama syi'ah bukan dari Islam akan tetapi hasil karya orang-orang yang ingin merusak Islam dari dalam.
Berikut ini kami tampilkan banyolan-banyolan kaum syi'ah yang kami kumpulkan dari beberapa tulisan dari internet, disertai tambahan-tambahan dari kami.
Di antara banyolan-banyolan tersebut adalah :
Dalam kitab Al-Kaafi disebutkan :

Amirul Mukminin (Ali bin Abi Tholib) menyebutkan bahwa hewan yang pertama kali meninggal tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal adalah 'Ufair (himar tunggangan Nabi-pen). Ia memutuskan tali kekangnya lalu iapun lari hingga mendatangi sumur bani Khutmah di Quba', lalu iapun melemparkan dirinya dalam sumur tersebut. Maka sumur tersebut menjadi kuburannya.

Dan diriwayatkan bahwasanya Amiirul-Mukminiin (‘alaihis-salaam) berkata : “Sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Ufair-pen) berkata kepada Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) : “Demi ayah, engkau, dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah bersama Nuuh di dalam perahu. Maka Nuuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : ‘Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi’. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [selesai]. (Usul Al-Kaafi 1/293, [بَابُ مَا عِنْدَ الْأَئِمَّةِ مِنْ سِلَاحِ رَسُولِ اللَّهِ وَمَتَاعِهِ], hadits ke-9)

Hadits aneh ini juga disebutkan oleh Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaar al-Anwaar 17/405 dalam bab (ما ظهر من إعجازه صلى الله عليه وسلم في الحيوانات) "Mukjizat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hewan-hewan"

Bahkan al-Majlisi menilai hadits ini adalah hadits yang shahih. Beliau berkata :

ولا يَستبعِد من كلام الحمار مَن يؤمن بالقرآن وبكلام الهدهد والنمل وغيرهما

"Orang yang beriman kepada Al-Qur'an, beriman dengan perkataan burung Hudhud dan perkataan semut, serta selain keduanya, tidak akan merasa aneh dengan perkataan himar" (sebagaimana dinukil oleh pentahqiq Ushul Al-Kaafi), Yaitu Al-Majlisi menguatkan keshahihan hadits ini.



Silakan perhatikan dengan seksama……… bahwa seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadits dengan menggunakan lafadh : haddatsanii abiy…dst. Tentu saja riwayat ini tidak akan kita temukan di kitab-kitab Ahlus-Sunnah. Ia terdapat dalam kitab Al-Kaafiy – kitab hadits paling valid menurut madzhab Syi’ah -.

Si keledai, bapaknya keledai, sampai kakeknya keledai menjadi rantai periwayatan yang menghubungkan pengkhabaran dari Nabi Nuuh ‘alaihis-salaam sampai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Yang aneh, hadits yang aneh ini dianggap sebagai mukjizat oleh Al-Khuu’iy – salah seorang fuqahaa’ Syi’ah kontemporer – saat menjelaskan hadits ini, ia berkata :

انظروا إلى هذه المعجزة، نوح سلام الله عليه يخبر بمحمد عليه السلام، وبنبوته قبل ولادته بألوف السنين.

“Lihatlah oleh kalian akan mu’jizat ini. Nuuh salaamullaah ‘alaihi mengkhabarkan Muhammad ‘alaihis-salaam dan tentang kenabiannya sebelum kelahirannya beribu-ribu tahun” [lihat Lillaahi Tsumma lit-Taariikh, hal. 15].

Jika manusia – yang notabene makhluk yang dikaruniai akal – harus ditimbang dalam penyampaian riwayat, bagaimana statusnya jika ia seekor keledai ? Dan bagaimana bisa khabar aneh ini mengagumkan Al-Khuu’iy dan menganggapnya sebagai satu mu’jizat ? Dan mungkinkah ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang terkenal teliti, kritis, dan berilmu menyampaikan khabar ini ? Nampaknya, ini adalah kebohongan serius yang telah menyisip dalam kitab Al-Kaafiy karangan Al-Kulainiy. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/ketika-keledai-telah-menjadi-perawi.html)

          Yang menjadi permasalahan bukanlah himar (keledai) yang berbicara, karena bahkan batu pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan ini merupkan mukjizat Nabi, demikian juga hadits-hadits dalam Shahih Al-Bukhari yang menyebutkan bahwa sapi dan serigala bisa berbicara.

Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah :

-         Berapa umur himar/keledai tersebut?. Bukankah antara Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam hingga Nabi Nuuh 'alaihis salam ribuan tahun??. Padahal sanad silsilah keluarga himar tersebut hanya 4 atau lima keledai. Jadi masing-masing keledai tersebut berumur ratusan tahun??!! Padahal umur himar biasanya berkisar antara 30 hingga 35 tahun, dan kalau panjang umur mungkin hingga 50 tahun??!

-         Lalu para himar tersebut bergaya sebagaimana ahlul hadits !!!. Padahal di zaman Nabi belum ada model periwayatan hadits, belum ada istilah haddatsanaa dan juga akhbaronaa…. Istilah-istilah tersebut muncul dan masyhur di zaman periwayatan hadits, yaitu setelah berlalunya generasi para sahabat.

-         Tentunya jika ada periwayatan dari hewan-hewan maka perlu ada buku yang menjelaskan tentang kedudukan para hewan tersebut, apakah sebagai perawi yang tsiqoh, ataukah dho'if, ataukah muttaham bi al-kadzib, dsb.

-         Ternyata himar ini, serta ayahnya, kakeknya, hingga buyutnya yang ada di zaman Nabi Nuuh adalah himar-himar yang cerdas. Mereka bisa membedakan mana ayah dan mana kakeknya !!!. Akan tetapi saking pintarnya sang himar ternyata mati dengan membunuh dirinya, dengan menenggelamkan dirinya di sebuah sumur ??!!. Mestinya himar ini juga –yang ditunggangi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam- tahu bahwa membunuh diri adalah dosa besar.



Hadits ini memang ditolak oleh sebagian kaum syi'ah, setelah mengetahui kelucuan dan kekonyolan riwayat silsilah himar tersebut. Akan tetapi ternyata hadits ini disebutkan dalam kitab agama syi'ah yang paling valid dan otentik, yaitu kitab Ushuul Al-Kaafi, yang menurut Al-Mahdi bahwa kitab ini isinya seluruhnya adalah shahih. Karenanya kita dapati sebagian ulama syi'ah tetap membela keshahihan riwayat himar tersebut.
sumber; http://mengapasayakeluardarisyiah.info

Kisah Nyata Khumaini Sang Pengagung Kemaluan Memut’ah Anak Berumur 4 Tahun

Inilah kesaksian dari salah satu ulama syi’ah Husain Al Musawi yang telah bertaubat dan keluar dari akidah syi’ah yang sesat tentang kisah Khumaini yang bejat memut’ah salah satu anak balita dibawah umur. Dan anak kecil ini baru berumur 4 tahun. Dan Khumaini memut’ahnya tatkala beliau safar bersama Husain Al Musawi. Berkata imam Husain Al Musawi dalam kitabnya:

ولما انتهت مدة السفر رجعنا، وفي طريق عودتنا ومرورنا في بغداد أراد الإمام أن نرتاح من عناء السفر، فأمر بالتوجه إلى منطقة العطيفية حيث يسكن هناك رجل إيراني الأصل يقال له سيد صاحب، كانت بينه وبين الإمام معرفة قوية

“Dan tatkala waktu safar sudah selesai kami segera pulang. Dan dalam jalan kepulangan kami dan tatkala melewati baghdad Imam menginginkan untuk beristirahat dari keletihan safar. Maka beliau memerintahkan agar kami menuju daerah atiifiyyah yang mana ada orang asli Iran yang tinggal disana. Dia akrab disapa dengan “Sayyid Shohib”. Antara dia dan imam khumaini saling mengenal diantara keduanya”

فرح سيد صاحب بمجيئنا، وكان وصولنا إليه عند الظهر، فصنع لنا غداء فاخراً واتصل ببعض أقاربه فحضروا وازدحم منزله احتفاء بنا، وطلب سيد صاحب إلينا المبيت عنده تلك الليلة فوافق الإمام، ثم لما كان العشاء أتونا بالعشاء، وكان الحاضرون يقبلون يد الإمام ويسألونه ويجيب عن أسئلتهم

“Maka senanglah Sayyid Shohib atas kedatangan kami. Dan kami sampai menjumpainya di waktu dzuhur. Maka dia membuatkan kami makan siang dengan memiliki rasa kemuliaan. Kemudian dia menelepon sebagian kerabat-kerabatnya. Maka hadirlah mereka dan ramailah rumah dengan perayaan bersama kami. Dan Sayyid Shohib meminta kepada kami agar bermalam di rumahnya. Maka imam khumaini menyetujuinya. Kemudian tatkala waktu isya datang, mereka membawa kepada kami makan malam. Dan para hadirin mencium tangan imam khumaini dan mereka bertanya dan Imam menjawab pertanyaan mereka.

ولما حان وقت النوم وكان الحاضرون قد انصرفوا إلا أهل الدار، أبصر الإمام الخميني صبية بعمر أربع سنوات أو خمس ولكنها جميلة جداً، فطلب الإمام من أبيها سيد صاحب إحضارها للتمتع بها فوافق أبوها بفرح بالغ، فبات الإمام الخميني والصبية في حضنه ونحن نسمع بكاءها وصريخها

Dan tatkala datang waktu tidur dan para hadirin telah pada bubar kecuali tuan rumah, tiba-tiba Imam Khumaini melihat anak kecil yang berumur 4 tahun atau 5 tahun akan tetapi dia begitu cantik. Maka imam meminta dari bapaknya “sayyid shohib” untuk membawa anaknya agar dimut’ah. Dan sang bapak menyetujuinya dengan rasa yang sangat bahagia. Maka imam khumaini tinggal bermalam sedangkan anak balita itu berada dalam pangkuannya. Dan kami mendengar tangisan anak balita ini dan teriakannya.

المهم أنه أمضى تلك الليلة فلما أصبح الصباح وجلسنا لتناول الإفطار نظر إلي فوجد علامات الإنكار واضحة في وجهي؛ إذ كيف يتمتع بهذه الطفلة الصغيرة وفي الدار شابات بالغات راشدات كان بإمكانه التمتع بإحداهن فلم يفعل؟

“Yang penting dia telah menghabiskan malam itu. Tatkala pagi hari telah datang dan kami duduk bersama untuk sarapan, Imam Khumaini memandangiku. Dan dia mendapati tanda-tanda pengingkaran pada wajahku terhadap perbuatannya. Karena bagaimana dia melakukan mut’ah dengan seorang balita yang masih kecil sedangkan di dalam rumah banyak gadis-gadis yang telah baligh yang dapat berpikir. Yang mana mungkin dapat bermut’ah dengan salah satu mereka akan tetap tidak dilakukannya ?

فقال لي: سيد حسين ما تقول في التمتع بالطفلة؟

قلت له: سيد القول قولك، والصواب فعلك، وأنت إمام مجتهد، ولا يمكن لمثلي أن يرى أو يقول إلا ما تراه أنت أو تقوله، -ومعلوم أني لا يمكنني الاعتراض وقتذاك

Maka Khumaini berkata kepadaku: “Sayyid Husain apa menurutmu tentang nikah mut’ah dengan anak kecil ?
Maka aku berkata kepadanya: “Perkataan yang mulia adalah perkataanmu, dan yang benar adalah perbuatanmu. Dan kamu adalah Imam Mujtahid. Dan tidak mungkin orang sepertiku untuk berpendapat atau berkata kecuali harus sesuai dengan pendapat dan perkataanmu. (Dan sebgaimana yang diketahui, bahwasanya saya tidak mungkin menolaknya di waktu itu)

فقال: سيد حسين؛ إن التمتع بها جائز ولكن بالمداعبة والتقبيل والتفخيذ.أما الجماع فإنها لا تقوى عليه.

وكان الإمام الخميني يرى جواز التمتع حتى بالرضيعة فقال: (لا بأس بالتمتع بالرضيعة ضماً وتفخيذاً -أي يضع ذكره بين فخذيها- وتقبيلاً) انظر كتابه (تحرير الوسيلة 2/ 241 مسألة رقم 12).

Maka Khumaini berkata: Sayyid Husain, sesungguhnya bermut’ah dengan balita itu boleh-boleh saja. Akantetapi dengan mencandainya, menciumnya, dan menggesekkan farji di kedua pahanya. Adapun jima’, maka anak balita belum kuat.
Dan memang Imam Khumaini berpendapat akan bolehnya bermutah walaupun dengan anak kecil yang masih menyusu. Dia berkata: Tidak mengapa bermut’ah dengan bayi yang masih menyusui dengan memeluknya, menggesekkan dzakar di kedua pahanya, dan dengan menciumnya. Lihat bukunya (Tahriir Al Wasiilah 2/241 Masalah nomor 12).
Kisah ini diceritakan oleh salah satu ulama syiah yang telah bertaubat dalam kitabnya “Lillah Tsumma Li At Taariikh 1/36
Begitulah bagaimana bejatnya Khumaini pendeta syiah dan Sayyid shohib penganut syiah.

Jumat, 04 September 2015

nikah mutah di Iran





Iran Nikah Mut’ah Bisa Sampai Seribu Kali
Di Iran, rupanya tidak sulit menyalurkan syahwat biologis lewat cara ini. Para pemuda Iran sudah akrab melakoni penyaluran kisah cintanya lewat jalan mut’ah.
Caranya pun relatif mudah, cukup bagi kita untuk menyambangi tiap mesjid di Iran yang menyediakan fasilitas mut’ah. Berbeda seperti mesjid kita sebagai orang Islam, mesjid kaum Syiah memang menyediakan ruangan khusus untuk melakukan transaksi mut’ah.
Biasanya para perempuan akan ditaruh di bilik-bilik Mesjid dan siap untuk diperlihatkan kepada laki-laki yang datang. Harga nikah mut’ah pun bervariasi. Tergantung perempuan mana yang menjadi selera kita, termasuk juga waktu.
“Mau satu jam atau dua jam? Kalau satu jam harganya sekian,” tukas KH. Kholil menyambung kisah seorang temannya yang pernah kuliah di Iran dan membuat para peserta menggelengkan kepalanya.
Hebatnya, nikah mut’ah pun tidak mengenal ambang batas. “Tidak ada batasnya, boleh sampai seribu kali (nikah mut’ah) dalam hari yang sama dan saat yang sama,” lanjutnya.
Berbeda dengan nikah dalam ajaran Islam yang memakai syarat wali dan saksi, nikah mut’ah aliran Syiah tidak memerlukan keduanya, “nikah mut’ah itu tidak perlu pakai wali, tidak perlu pakai saksi. Karena pada hakikatnya mengandung adanya jual beli.” tambah KH. Kholil bercampur heran.
“Bagaimana kita mau mengatakan ini nikah muslim jika caranya seperti itu?” tanyanya.
Jika kita mendengar kisah ini, kita jadi teringat akan berita di Iran baru-baru ini. Menurut sebuah berita, saat ini terjadi pergeseran tren di Iran dimana nikah mut’ah lebih popular ketimbang nikah secara permanen.
DR Shahla I’zazi dari Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Sosial Iran, menyatakan fenomena nikah mut’ah adalah tuntutan sejumlah pejabat Iran yang menginginkan adanya hubungan gelap antara laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu, mereka mencoba melegitimasi hubungan ini melalui pernikahan sementara.
Namun perkembangan nikah mut’ah pun bukan semata-semata karena tingginya syahwat para pejabat Iran, karena secara statistik menunjukkan bahwa pelaku nikah mut’ah atau kawin kontrak terbesar justru berasal dari warga kota Qum. Kota yang dianggap suci dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama, yang sebagian besar lulusannya menjadi ulama Syiah ternama.
Kasus aneh dari nikah mut’ah pun tidak hanya terjadi di Iran. Bahkan yang lebih menggelikan lagi, dilakukan sekelompok pemuda Syiah di negeri ini. Majalah Panji Mas- sebelum majalah ini gulung tikar- pernah menceritakan pengalaman mut’ah sekelompok pemuda Syiah di Indonesia.
Berbeda dengan di Iran yang melepaskan transaksi syahwatnya di dalam mesjid, sekelompok pemuda Indonesia ini malah melakukannya diatas hawa sejuk kawasan Puncak. Apa ada mesjid di Puncak yang melaksanakan mut’ah? Tentu tidak, karena pemuda ini mendatangi Puncak jsutru untuk menemui para pelacur.
“Jadi sewa pelacur dan menyewa villa.” Kata KH. Kholil.
Di hadapan para pelacur ini, salah seorang perwakilan Syiah kemudian berkhotbah bahwa apa yang akan mereka lakukan tidaklah perbuatan zina asal mereka mau menjalani sebuah syarat, yakni dinikahkan secara mut’ah.
“Kita ini bukan mau berzina, tapi mau mut’ah,” ungkap KH. Kholil menirukan suara si pemuda.
Dari kelima pelacur tadi, salah seorang diantaranya ada yang menitikkan air mata. Ia menangis tersendu-sendu. Namun ada pula yang tertawa cekikikan.
Karena merasa ada yang aneh, pengkhotbah tersebut lantas bertanya kepada pelacur yang menangis itu.
“Kamu kenapa menangis?”
“Saya nangis karena ingat masa lalu saya, saya ini tamatan pesantren. Saya sedih kenapa saya jadi begini.” jawabnya
“Lah kamu yang cekikikan?” tanya sang pengkhotbah.
“Saya tertawa, masak sih pak ustadz mau maen aja pake ceramah dulu. Maen mah maen aja.” tutup KH. Kholil yang disambut tawa riuh para jama’ah yang hadir dalam acara Ahlussunah Bersatu Menolak Syiah. (pz)