FATWA MUI TENTANG SYIA'AH
Buku ini adalah salah satu bukti KESESTAN AJARAN SYI'AH.
Senin, 22 Februari 2016
Rabu, 27 Januari 2016
konspirasi Yahudi {Israel} dan Persia {Iran}
Di dalam sebuah
koran “ma’arif israel” terdapat sebuah makalah yang ditulis oleh “marlk hubilz”
yang menuliskan tentang : Sesungguhnya agama syiah (termasuk diantaranya
syiah hautsi)bekerja untuk kemaslahatan kami, dan mereka adalah kaki tangan kami
di timur tengah, tanpa keberadaan agama syiah ini, kami tidak mungkin bisa
memecah belah negara negara arab dan menyalakan api-api peperangan di dalamnya.
Dengan peran
agama syiah inilah kami telah berhasil menghentikan ekspansi islam ke eropa,
dan mematahkan setiap perlawanan islam. Itulah yang membuat kami menyokong
sepenuhnya agama ini (syiah) dengan segala kekuatan dan fasilitas yang
kami miliki karena mereka adalah sekutu-sekutu kami yang setia. Telah sempurna
sudah penyelewengan agama dan pemutarbalikan sejarah islam, sungguh kami telah
mengganti masjid-masjid dengan husainiyat-husainiyat yang di dalamnya terdapat
upacara-upacara yang menghembuskan api permusuhan dan pembalasan dendam yang
ujung-ujungnya adalah bagaimana membunuh kaum muslimin.
Dan kami telah
menggantikan ka’bah dengan tempat-tempat
serta kuburan-kuburan yang dibuat-buat, dan kami telah menjadikan mereka
berhaji ke tempat-tempat dan kuburan-kuburan ini, bukan ke ka’bah! Maka ketika
mereka mendapatkan orang nasrani atau yahudi melakukan penistaan terhadap Nabi
Muhammad, mereka (kaum muslimin) keluar berdemonstrasi menentang penistaan
tersebut. Akan tetapi kalau itu muncul dari orang syiah, mereka mengotori
kehormatan Nabi Muhammad, mencerca para sahabat Nabi, menyelewengkan alqur’an,
maka kita tidak akan mendapatkan penentangan apapun dari kaum muslimin
Pendeta
“zweimer” berkata : “sebuah pohon hanya bisa ditebang oleh salah satu dari
anak-anaknya” dan inilah fenomena kesuksesan kami dalam menyelewengkan
islam dan memecah belah umat islam. Kami telah memprogram syiah untuk satu
tujuan, yaitu kedengkian terhadap “ahlussunnah” dengan cara menghilangkan akal-akal sehat
mereka, dan menggantinya dengan “dorongan-dorongan kebengisan” dengan
menghidupkan upacara-upacara penggembosan dan penuh nuansa pembalasan dendam.
Kami buat
mereka berperang dengan harta-harta dan jiwa mereka mewakili kami tanpa
mengalami kerugian sedikitpun dengan mempergunakan seperlima (kewajiban khumus)
harta mereka. Kami buat mereka menunggu “seseorang yang tidak jelas”
yang telah menghilang selama 1200 tahun, ia akan datang di akhir zaman, dan
membunuh para pembunuh Husaen, ia akan hancurkan ka’bah, ia akan mengeluarkan
abu bakar dan umar dan menyalib mereka berdua setelah mereka berdua dihidupkan
kembali. Dan seluruh rujukan syiah di Teheran memiliki hubungan yang sangat
erat dengan para pembesar yahudi, bahkan ada koordinasi diantara mereka. Bagaimana
tidak syiah adalah buatan kami, ingatkah bahwa pendiri syiah adalah Abdulah bin
saba “al yahuudi”. Kami betul –betul telah memprogram akal orang-orang
syiah sehingga menjadikan musuh awal dan akhir mereka adalah sunni.
Dan program ini
adalah penuntutan hukum terhadap kezaliman dan pembalasan dendam terhadap para
pembunuh husain dan para perampas kekhalifahan yang tidak lain adalah
ahlussunnah, dan program ini adalah program sulit pembuatannya, karena program
ini berdiri diatas asas kedengkian dan penyelewengan alquran.
Nb: Diterjemahkan dari teks asli.
Selasa, 19 Januari 2016
Kecintaan Syi’ah Terhadap Ali, antara syari’at dan ghuluw
Kecintaan Syi’ah Terhadap Ali, antara syari’at dan ghuluw
أنه لا يحبني إلا مؤمن , ولا يبغضني إلا منافق
“Tidaklah mencintaiku melainkan ia seorang mukmin dan tidaklah membenciku melainkan ia seorang munafiq.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim)Asy-Syaikh Abdul Hamid Al-Juhani ketika menjelaskan makna hadits ini, beliau mengatakan,
” Aku ingatkan bahwa Rafidhah tidak termasuk dalam hadits ini; karena yang dimaksud dengan “kecintaan” dalam hadits di atas adalah kecintaan yang syar’i (sesuai syari’at islam,pen), sedangkan kecintaan Rafidhah terhadap Ali adalah kecintaan yang tidak syar’i, bahkan ia adalah kecintaan bid’ah dan syirik, tidaklah membuat mereka dari Allah kecuali bertambah jauh dan menambah murka. (kecintaan mereka) seperti kecintaan Nashara kepada Isa bin Maryam ‘alaihis salam, yaitu kecintaan ghuluw, syirik, dan dusta. Jadi, tidak semua yang namanya cinta itu adalah benar dan jujur.
Tentang hal ini Allah berfirman:
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم
“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kalian memang cinta kepada Allah, maka ikutilah aku pasti Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31)Demikianlah, kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib atau kebencian kepadanya adalah pembeda antara seorang mukmin dan munafiq.
Dan kami bersaksi kepada Allah atas kecintaan kepada Ali dengan kecintaan yang syar’i.
Kami berlepas diri kepada Allah dari syirik kaum Rafidhah dan sikap berlebihan mereka, dan (kami juga berlepas diri) dari kebencian kaum Nawashib dan sikap jumut mereka….”
[Selesai penjelasan beliau]
Ahsanta (sungguh benar anda) wahai Asy-Syaikh Al-Juhani…Kaum Rafidhah tidaklah masuk kedalam deretan orang-orang yang mencintai Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu….. walaupun mereka mengklaimnya….
Ya Allah, saksikanlah…, kami berlepas diri dari sikap berlebihan kaum Rafidhah terhadap hamba-Mu yang mulia, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu…
Ya Allah, lindungilah kaum muslimin dari kelejekan, kejahatan, dan kesesatan Rafidhah….
Amin Ya Rabbal ‘Alamin
Wallahu Ta’ala A’lam bish Shawab
sumber;https://haulasyiah.wordpress.com
Syi’ah dan Kebencian Mereka Kepada Malaikat Jibril
الحمدالله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين
أما بعد :
Sungguh Syi’ah telah terpengaruh dengan keyakinan Yahudi dalam hal permusuhan mereka terhadap Malaikat Jibril ‘alaihis salamBerikut ini adalah penjelasan dari Asy-Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fauzan (Anggota Dewan Fatwa Arab Saudi) dalam kitabnya Al-Manhah Ar-Robbaniyah fi Syarhil Arba’ina An-Nawawiyah, hal.53-54 Cet. Darul ‘Ashimah:
“Diantara mereka ada yang memusuhi para malaikat, diantara mereka ada juga yang memusuhi sebagian malaikat. Seperti Yahudi yang memusuhi Malaikat Jibril ‘alaihis salam, mereka mengatakan Jibril musuh kami, seandainya yang turun kepada Muhammad (untuk menyampaikan wahyu) bukan Jibril pasti kami akan beriman kepadanya, tetapi karena yang turun kepadanya adalah Jibril maka kami tidak mau beriman kepadanya, karena Jibril adalah musuh kami. Allah berfirman:
قال الله تعالى: (قُلْ مَن كَانَ عَدُوّاً لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ * مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ….) البقرة : 97-98
“Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman * Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” (QS. Al-Baqoroh: 97-98)Syi’ah juga memusuhi Jibril karena syi'ah agama buatan Yahudi.
Mereka berkata: Sesungguhnya risalah (kenabian) untuk Ali tetapi Jibril berkhianat dan memberikannya kepada Muhammad.
Seorang penya’ir mereka berkata:خان الأمين وصدها عن حيدرة
“Telah berkhianat Al-Amin (Jibril) dan menghalanginya dari Haidaroh (‘Ali)”
sumber;https://haulasyiah.wordpress.com
Minggu, 03 Januari 2016
15 Doktrin Sesat Syi’ah
s
Pertama: Dunia dengan
seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan
dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang
dikehendaki. (Kitab Ushulul Kaafi, hal.259, Al Kulaini).
Doktrin itu untuk menandingi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki,” (QS. Al A’raf: 128). Mereka menyetarakan kekuasaan para Imam Syi’ah dengan Allah, bukankah itu inti kesyirikan?
Kedua: Ali bin Abi
Thalib mereka klaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai
dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin. (Kitab Rijalul Kashi:
hal. 138). Mereka menyamakan sifat Ali dengan sifat Allah seperti dalam
surat Al Hadid, ayat 3. Bukankan itu inti kesyirikan dan kekufuran?
Ketiga: Para Imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 83).
Keempat: Amirul
Mukminin, Ali bin Abi Thalib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah
dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak
diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk,
mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun
yang ghaib. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 84).
Kelima: Keinginan para Imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 278).
Keenam: Para Imam Syi’ah
mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat
kematiannya, karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka
ia tidak berhak menjadi imam. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 158).
Ketujuh: Para Imam
Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan
menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka, karena mereka
mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 193).
Kedelapan: Allah itu bersifat Bada’ (yaitu
baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi). Akan tetapi para Imam
Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 40).
Menurut Al Kulaini (ulama besar ahli
hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan
mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu
Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi
Imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu
menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 232).
Kesembilan: Para imam
Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para
imam Syi’ah bersifat Ma’shum (bersih dari kesalahan dan tidak pernah
lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati Imam
Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumen
Kebenaran). (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 165).
Kesepuluh: Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (Kitab Ushulul Kaafi:
hal. 165). Yang mereka maksud para Imam Syi’ah adalah Ali bin Abi
Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin
Ali. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 109).
Kesebelas: Al Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Kitab Ushulul Kaafi:
hal. 670). Salah satu contoh ayat Al Qur’an yang dikurangi dari aslinya
(versi mereka, red.) yaitu ayat Al Qur’an An Nisa’: 47, menurut versi
Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuron mubiinan”. (Kitab Fashlul Khitab:
hal. 180). Menurut Syi’ah, Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi
Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat. (Kitab Ushulul Kaafi: hal. 671).
Keduabelas: Menyatakan
bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah,
Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi,
mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka,
maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan Imam-Imam
Syi’ah. (Kitab Haqqul Yaqin: hal. 519, oleh Muhammad Baqir Al Majlisi).
Ketigabelas: Menghalalkan
nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin
mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Shalallahu
‘Alaihi wa Sallam. (Kitab Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).
Keempatbelas: Menghalalkan
saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama
temannya. Kata mereka, Imam Ja’far berkata kepada temannya: “Wahai
Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak
suka, kembalikan lagi kepadaku.” (Kitab Al Istibshar III: hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan Ath Thusi).
Kelimabelas: Rasulullah
dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi
sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan
Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua
orang ini akan disalib (Kitab Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir Al Majlisi).
Semua kitab tersebut di atas adalah
kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti
halnya kitab-kitab hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal,
Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh
karena itu, upaya-upaya Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah
adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang
tidak prinsip, adalah dusta dan harus ditolak tegas
Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah
itu bagian dari umat Islam? Atau Anda masih ragu bahwa ajaran Syi’ah itu
sesat menyesatkan? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak mengkafirkan aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk kafir.
Wallahu a’lam.
Kamis, 03 Desember 2015
Syiah dan Kitab-Kitabnya yang Menghina Rasulullah
MSKDS - Pada tahun 2011 kemarin, umat Syi’ah melakukan pemberontakan berdarah di Bahrain, Arab Saudi, dan Yaman yang sebagian besar penduduknya Muslim. Malah di Yaman, para milisi Syi’ah menyerang Ponpes Syekh Muqbil Al Wadiy, yang mengakibatkan beberapa orang santri tewas dan cedera, termasuk santri asal Indonesia.
Di Suriah, selama beberapa dekade—hingga tulisan ini dibuat—pemerintah
yang didominasi salah satu sekte Syi’ah (An Nusairiyah) banyak melakukan pelanggaran HAM terhadap warga Muslim. Demikian pula di Iran, sejak Revolusi Syi’ah 1979 oleh Khomeini, pemerintah negara beribukota Teheran sangat represif terhadap kaum Sunni.
Seringkali masyarakat awam tak bisa membedakan antara Sunni dan Syiah. Bahkan sebagian besar menganggap sama. Sekilas, identitas dan ritualitas umat kedua agama tidak ada perbedaan. Namun setelah dicermati dengan benar, antara Islam dan Syi’ah terdapat perbedaan yang kontras dari tingkat keyakinan hingga tingkat aplikasi syariat.
Jika ditinjau dari kajian komunikasi dakwah, salah satu akar konflik Islam-Syi’ah adalah sikapnya dalam hal melecehkan pribadi Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), maupun penistaan atas para istri, keluarga, dan sahabat beliau.
Perusakan kehormatan tersebut banyak ditulis pada kitab-kitab karangan pemuka umat Syiah. Banyak kalangan menyebut mereka sebagai ulama Syiah.
Padahal, berdasarkan kitab-kitab imajinatif yang sarat pelecehan atas Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), para pemuka Syi’ah telah menunjukkan bahwa mereka tidak takut kepada Allah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) dan rasul-Nya.
Di bawah ini adalah kitab-kitab yang menjadi rujukan penting kaum Syiah. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Al Anwar an Nu’maniyah
Ni’matullah Al Jazairi adalah tokoh Syi’ah yang paling jahat dalam melecehkan sahabat Umar bin Khattab RA. Di dalam ‘Al Anwar an Nu’maniyah’, tokoh tersebut memfitnah bahwa Umar akan menerima siksaan lebih berat daripada Iblis karena merebut jabatan khalifah dari tangan Ali bin Abu Thalib RA, juga menulis berita bohong kalau ayah mertua Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) itu pernah (maaf) terserang penyakit ‘kotor’.
2. Al Bayan
Jika pendeta Syi’ah yang lain menyerang kehormatan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) melalui keluarga dan sahabat, Abul Qasim Al Kuu’iy justru melecehkan pribadi Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sendiri. Dalam kitab ‘Al Bayan’, pemuka umat Syiah itu menuduh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah menghapus redaksi firman Allah Subhanahu wa-ta’ala tentang keutamaan Ali bin Abu Thalib dalam Surah Al Maa’idah ayat 67.
3. Al Ihtijaj
Seorang pendeta Syi’ah bernama Ahmad bin Manshur Ath Thibrisi, dalam kitabnya ‘Al Ihtijaj’ menuduh para sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah menghapus ayat-ayat Al Qur’an yang berisi celaan Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى) atas mereka, agar wibawa sahabat tidak jatuh di mata umat Islam.
4. Ajma’ul Fadha’ih
Di dalam ‘Ajma’ul Fadha’ih’, Al Mulla Kazhim, salah satu tokoh pengikut Syiah menjanjikan bahwa barangsiapa yang sekali saja melaknat kedua sahabat nabi (Abu Bakar RA dan Umar RA) maka Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى) akan memberinya 70 juta kebaikan, menghapuskan 1 juta kejelekan, dan mengangkatnya 70 juta derajat.
5. Ar Raudhah minal Kafi
Seorang tokoh agama Syi’ah, Abu Ja’far Al Kulaini di dalam kitab ‘Ar Raudhah minal Kafi’ memfitnah semua sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah murtad, kecuali 3 orang di antara mereka, yaitu Al Miqdad bin Al Aswad RA, Abu Dzar Al Ghifary RA, dan Salman Al Farisy RA.
6. As Sujud ‘Alaa at Turbah al Huseiniyah
7. Ash Shirat al Mustaqim ila Mustahiq at Taqdim
Dalam kitab ‘Ash Shirat al Mustaqim ila Mustahiq at Taqdim’, pendeta Syi’ah bernama Zainuddin Al Bayadhi telah melakukan pelecehan secara khusus terhadap sahabat Utsman bin Affan RA, dengan memfitnah bahwa menantu Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tersebut sebagai orang (maaf) banci, serta pernah (maaf) meniduri seorang tahanan wanita yang akan dihukum rajam.
8. Awa’ilul Maqalaat
Muhammad An Nu’man, salah satu pemuka umat Syiah, menuduh bahwa para sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) yang menjadi oposan pemerintahan Ali bin Abu Thalib, adalah sebagai orang yang (maaf) murtad, sesat, terlaknat, dan kekal di dalam neraka jahanam.
9. Bihar al Anwar
Kitab ‘Bihar al Anwar’ karangan Muhammad bin Bagir Al Majlisi, memfitnah ‘Aisyah RA, istri Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sebagai seorang perempuan yang (maaf) lemah iman dan lemah akal.
10. Fashlul Khitab
Dalam ‘Fashlul Khitab’, pemuka umat Syiah bernama Husain Muhammad Ath Thibrisi menulis bahwa kitab suci Al Qur’an yang berada di tangan umat Islam telah mengalami perubahan (modifikasi) dan penyimpangan (distorsi).
11. Hadits al Ifk
Pendeta Syi’ah bernama Abu Ja’far Al Kulaini adalah ‘tukang’ tulis banyak kitab pelecehan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Kitab ‘Hadits al Ifk’ merupakan salah satu karangannya yang menghina kedua istri Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), yaitu ‘Aisyah RA dan Hafshah RA, sebagai (maaf) perempuan kafir seperti istri Nabi Nuh AS dan istri Nabi Luth AS.
12. Haqqul Yaqin
Muhammad Bagir Al Majlisi, seorang tokoh Syiah, dalam ‘Haqqul Yaqin’ menyatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum ia membenci para sahabat nabi, terutama Abu Bakar, Umar, Utsman, Mu’awiyah, ‘Aisyah, Hafsah, Hindun, dan Ummul Hakam, serta orang-orang yang mengikuti mereka.
13. Miftahul Jinan
Kitab ‘Miftahul Jinan’ adalah buku panduan wirid umat Syi’ah yang berisi kalimat-kalimat laknat atas 2 ayah mertua Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) (Abu Bakar RA dan UMar RA), serta kalimat-kalimat laknat atas 2 istri Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) (‘Aisyah RA dan Hafshah RA).
14. Mira’ah al Anwar wa Misykah al Asrar
Kitab ‘Mira’ah al Anwar wa Misykah al Asrar’ karangan Abu Hasan Al Aamili pun juga menuduh para sahabat baginda nabi telah melakukan penghapusan sejumlah ayat dalam Al-Qur’an.
15. Syarh Nahjih Balaghah
Ibnu Abil Hadid, salah satu tokoh Syi’ah, dalam kitab ‘Syarh Nahjih Balaghah’, merendahkan derajat para sahabat Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sebagai orang-orang yang tidak memiliki keutamaan. Bahkan dengan sangat berani ia menuduh dosa para sahabat lebih besar daripada dosa orang-orang dari kalangan non-sahabat.
16. Tafsir al ‘Ayasyi
Muhammad Al ‘Ayasyi, salah satu tokoh Syiah tidak tanggung-tanggung dalam memfitnah kedua istri Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), ‘Aisyah RA dan Hafshah RA. Al ‘Ayasyi menulis berita dusta bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) meninggal dunia karena (maaf) telah diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.
17. Tafsir al Quumi
Ali bin Ibrahim al Quumi dalam kitabnya berjudul ‘Tafsir Al Quumi’, mengatakan bahwa di akhirat kelak 2 sahabat utama sekaligus ayah mertua Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), yaitu Abu Bakar RA dan Umar RA (maaf) meronta-ronta kesakitan akibat siksaan neraka jahanam, serta menuduh janda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bernama ‘Aisyah RA (maaf) berselingkuh dengan seorang sahabat bernama Thalhah RA dalam perjalanan ke Basrah menjelang terjadinya Perang Jamal.
18. Tafsir ash Shafi
Menurut pemuka umat Syiah bernama Al Faidl al Kasyani dalam kitab ‘Tafsir ash Shafi’, Abu Bakar dan Umar (maaf) telah murtad setelah kematian nabi yang juga menantu mereka, Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam
19. Tahdzibul Ahkam
Dalam ‘Tahdzibul Ahkam’, seorang tokoh Syi’ah bernama Ja’far Ash Shadiq menyatakan, bahwa para wanita dari kalangan ahlul bait (keluarga Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)) setara derajatnya dengan wanita Majusi dan (maaf) wanita pelacur.
20. Ushul al Kaafi
Di mata umat Islam, Abu Ja’far al Kulaini dikenal sebagai The Character Assassination Maker, mengingat begitu banyaknya kitab karangan tokoh Syi’ah tersebut yang menista Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Salah satunya adalah ‘Ushul al Kaafi’, yang mengatakan bahwa para sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah banyak menghapus isi Al Qur’an, sehingga kitab suci terakhir tersebut tidak utuh lagi, 2/3 bagian hilang dan tersisa 1/3 bagian saja.
sumber;http://mengapasayakeluardarisyiah.info
Minggu, 11 Oktober 2015
Inilah Bukti Busuknya Nikah Mut'ah Ala Syi'ah Dari Kitabnya Sendiri
Al-Hamdulillah,
segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga
terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
keluarga dan para sahabatnya.
Islam
merupakan agama yang suci, terhormat, tinggi, dan maju. Ia datang dengan
menjaga farji dan melindungi kehormatan serta memberikan aturan tegas dalam
masalah tersebut. Karenanya Islam mengharamkan zina dan memberikan hukuman yang
berat padanya. Islam juga menutup pintu-pintu zina seperti mengumbar pandangan
kepada wanita yang bukan mahram, berkhalwat, ikhtilath dan segala sesuatu yang
bisa menyebabkan terjadinya perzinaan.
Allah
Ta'ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ
سَبِيلًا
"Dan
janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra': 32)
Berkat
rahmat-Nya, Islam membuka pintu pernikahan yang syar'i, menganjurkan dan
menyemangatinya. Karena di dalamnya terdapat kemashlahatan yang sangat besar.
Seperti ketenangan jiwa, rasa cinta dan kasih sayang, mendapat keturunan, dan
terjaganya kehormatan. Islam juga menetapkan syarat-syarat dalam pernikahan
seperti adanya wali, saksi, dan mahar.
Islam
mengharamkan nikah dengan wanita yang masih mahram dan sangat keras dalam
masalah itu. Memerangi orang yang mempermainkan kehormatan dan memudah-mudahkan
(meremehkan)-nya. Sementara nikah mut'ah, -yaitu menikahi wanita sampai batas
waktu tertentu seperti satu hari, tiga hari, satu pecan, dan seterusnya, dengan
imbalan tertentu yang diberikan kepadanya. Jika sudah sampai waktu tersebut
secara sendirinya terjadi perceraian-, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam telah mengharamkannya setelah sebelumnya dibolehkan dalam beberapa
masa. Hikmah dari larangan itu, agar seorang muslim menikah yang daim
(tetap). Karena dalam pernikahan tersebut terdapat cinta dan kasih sayang serta
memperoleh keturunan, tidak melulu hanya untuk melampiaskan nafsu syahwat.
Pengharaman
nikah mut'ah ini ditetapkan melalui sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan sahabat lainnya Radhiyallahu
'Anhum. Walau di awal pengharaman nampak samar oleh sebagian sahabat, tapi
hal ini tidak menghalangi untuk memperjelas masalah ini.
Imam
al-Khathabi berkata, "Pengharamannya (nikah mut'ah) itu seperti ijma' di
antara kaum muslimin. Tidak ada khilaf (perselisihan/silang pendapat) di antara
umat kecuali oleh satu kelompok saja, yaitu Syi'ah Rafidhah." (Dinukil
dari Ithaf al-Kiram, ta'liq atas Bulugh al-Maram: 295)
Imam
al-Syafi'i rahimahullah berkata: "Aku tidak pernah tahu ada sesuatu
yang diharamkan lalu dibolehkan, lalu diharamkan (kembali) kecuali nikah
mut'ah."
Imam
Nawawi rahimahullah berpendapat, bahwa pengharaman mut'ah dan
pembolehannya terjadi dua kali. Ia dibolehkan sebelum perang Khaibar, lalu
diharamkan pada perang tersebut. Kemudian dibolehkan pada masa penaklukan
Makkah, dan itu adalah tahun terjadinya perang Authas, kemudian diharamkan
untuk selama-lamanya. (Diringkas dari Ithaf al-Kiram, ta'liq atas Bulugh
al-Maram: 295)
Oleh
sebab itu, kita tidak akan mendapatkan pembolehan nikah mut'ah ini dalam
Al-Qur'an. Hal itu karena saat Allah menyebutkan tentang orang-orang beriman dan
pujian atas mereka, Dia berfirman,
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى
أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
"Dan
orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau
budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela."
(QS. Al-Mukminun: 5-6) Allah tidak menyebutkan di dalamnya akan nikah mut'ah.
Kita
tidak memiliki kepentingan dalam pengharaman nikah mut'ah kecuali sebagai
bentuk pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam benar-benar beriman dengan apa yang diturunkan kepada
beliau, begitu juga orang-orang beriman. Mereka hanya mengatakan Sami'naa wa
Atha'naa (kami mendengar dan kami taat) terhadap ketetapan hukum Allah.
Nurani
yang sehat juga tidak akan menerima nikah mut'ah. Sehingga kita hampir-hampir
tidak akan mendapati orang-orang yang membolehkan nikah mut'ah, ia ridha kalau
anak wanitanya, saudarinya, atau ibunya dinikahi dengan cara mut'ah.
Dan
yang lebih menyedihkan lagi, orang-orang yang membolehkan mut'ah
mempraktekkannya seenaknya sendiri dengan berbagai bentuk yang busuk. Sehingga
mut'ah menjadi pemandangan memuakkan, arena pelampiasan syahwat, penghancur
kehormatan, dan merusak citra Islam dalam pandangan manusia.
Selanjutnya
kami ingin nukilkan beberapa bukti dari kitab Syi'ah yang berisi pelegalan zina
terselubung dalam nikah mut'ah dan berbagai bentuk busuk dalam
mempraktekkannya.
1.
Ruhullah al-Khumaini dalam kitabnya
Tahrir al-Wasiilah (تحرير الوسيلة): II/241; dalam
masalah ke 11, dia berkata: "Pendapat yang masyhur dan paling kuat, boleh
menyetubuhi wanita pada duburnya. Dan sebagai tindakan hati-hati hendaknya
ditinggalkan, khususnya ketika istrinya tidak suka."
Pada
masalah ke 12, ia berkata: "Tidak boleh menyetubuhi istri sebelum sempurna
7 tahun, baik nikah abadi atau terputus (mut'ah). Adapun seluruh kegiatan
bercumbu seperti membelai dengan syahwat, mengecup, dan memegang paha, itu
tidak apa-apa sampai pada anak yang masih di susuan."
2.
Al-Sayyid al-Khui dalam kitabnya Maniyyah
al Sa-il (منية السائل) atau lebih dikenal
dengan Fatawa al-Khu'i, hal 100, membolehkan mut'ah dengan pembantu, sama saja
pembantu yang bertugas mencuci, memasak, bersih-bersih rumah, ataupun pembantu
yang bertugas dalam mendidik anak. Tidak dibedakan pembantu yang dibawah
tanggungan dia atau orang lain.
3.
Muhammad al-Thusi, dalam kitabnya Tahdzib
al-Ahkam, pada bab tambahan dalam fiqih Nikah (VII/460), riwayat no. 1843:
menyebutkan riwayat yang disandarkan kepada Abu Abdillah, beliau berkata:
"Jika seseorang menyetubuhi istrinya di duburnya dan sang (sang istri)
dalam kondisi berpuasa, maka puasa tidak batal dan ia tidak wajib mandi."
4.
Al-Thibrisi, dalam kitabnya
Mustadrak al-Wasa-il, Kitab al-Nikah, hal. 452, menjelaskan tentang keutamaan
dan pahala yang diperoleh orang yang melakukan mut'ah. (Riwayat no. 17257), dia
menyandarkan riwayat tersebut kepada imam Al-Baqir: "Jika dia melakukannya
(mut'ah) karena Allah 'Azza wa Jalla dan menyelisihi si fulan, maka
tidaklah ia mengucap satu ucapan kecuali Allah mencatatnya sebagai satu
kebaikan untuknya. Jika ia menyetubuhinya, Allah akan mengampuni dosanya. Jika
ia mandi, Allah memberi ampunan untuknya sejumlah air yang membasahi kepalanya,
yaitu sebanyak rambutnya."
(No.
17258) dalam riwayat yang disandarkan kepada Imam al-Shadiq, ia berkata:
"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mengharamkan setiap minuman yang
memabukkan atas Syi'ah (kelompok) kami, dan menggantinya dengan mut'ah."
(No.
17259) dalam riwayat yang bersumber dari al-Baqir, ia berkata: Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Ketika aku diisra'kan ke
langit, Jibril menemuiku, lalu berkata: 'Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah 'Azza
wa Jalla berfirman: "Sesungguhnya aku telah mengampuni orang-orang
yang melakukan nikah mut'ah dari kalangan wanita".'
5.
Muhammad al-Thusi, dalam kitabnya Tahdzib
al-Ahkam, pada bab Perincian Hukum-hukum Nikah (VII/256): (no. 1105)
menyebutkan riwayat yang bersumber dari Imam al-Ridha: Bahwa beliau membolehkan
menikahi wanita Yahudi, Nashrani, bahkan Majusi secara mut'ah.
(No.
1106) riwayat dari Abu Abdillah, ia berkata: "Seorang laki-laki boleh
bermut'ah dengan wantia Majusi." Tetapi bermut'ah dengan wanita mukminah
adalah lebih utama.
Catatan
penulis: Padahal Allah berfirman:
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ
مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا
الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ
وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى
الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ
لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
"Dan
janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun
dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan
wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin
lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke
neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka
mengambil pelajaran." (QS. Al-Baqarah: 221)
6.
Abu al-Qashim al-Khu-i (ulama besar
al-Hauzah al-'Ilmiyah) dalam kitab Shirath al-Najaat fi Ajwibah
al-Istifta-at. Memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan:
(Jawaban
pertanyaan 844): "Boleh melakukan akad nikah mut'ah melalui telepon."
Catatan
penulis:: Lalu apa bedanya nikah semacam
ini dengan seseorang yang memboking wanita pelacur?
(Jawaban
pertanyaan 849): "Jika dibuat syarat sebelum nikah mut'ah dilaksanakan
agat tidak melakukan coitus (memasukkan zakar ke farji), lalu ternyata
melakukannya maka tidak disebut zina."
(Jawaban
pertanyaan 850): "Tidak boleh melakukan perpanjangan kontrak dalam mut'ah
kecuali setelah kontrak pertama selesai."
7.
Ruhullah al-Khumaini, dalam kitabnya
Tahrir al-Wasiilah (تحرير الوسيلة): II/292; dalam
masalah ke 17, menfatwakan bahwa disunnahkan wanita yang dimut'ah adalah
mukminah yang menjaga kesuciannya dan menanyakan statusnya sebelum melakukan
akad, apakah punya suami atau sedang masa iddah. Tetapi ini tidak menjadi
syarat sahnya mut'ah.
Sementara
pada masalah ke 18, dia (Khumaini) membolehkan bermut'ah sama wanita pezina.
Padahal Allah Ta'ala berfirman,
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً
وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
"Laki-laki
yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan
yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh
laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan
atas orang-orang yang mukmin." (QS. Al-Nuur: 3)
8.
Al-Thibrisi, dalam kitabnya
Mustadrak al-Wasa-il, Kitab al-Nikah, hal. 458, pada bab ke 8 mengatakan,
"Tidak haramnya melakukan mut'ah dengan wanita pezina (pelacur) walaupun
terus menerus." Dan hal ini disandarkan kepada riwayat yang bersumber dari
Abu Abdillah. Keterangan ini juga disebutkan oleh Syaikh al-Mufid dalam Risalah
al-Mut'ah.
Bab
ke 9 dari kitab tersebut berbunyi: "Bab tidak wajibnya melakukan
penelitian dan bertanya tentang kondisi status wanita yang dimut'ah."
Penutup
Demikianlah
buruknya ajaran syi'ah dalam uruan nikah yang sangat mereka agung-agungkan.
Sesungguhnya ajaran yang demikian hinanya tidak mungkin bersumber dari wahyu.
Dan Mahasuci Allah dari mensyariatkan ajaran yang demikian.
Tidak
lain ajaran yang demikian adalah bersumber dari hawa nafsu. Baik karena
dorongan syahwat atau sentimen terhadap kaum mukminin yang tidak sepaham dengan
mereka. Hanya karena Amirul Mukminin Umar bin al-Khathab dengan tegas
menerapkan keharamannya dalam kasus Amru bin Harits, lalu mereka mati-matian
menghalalkan dan memerintahkannya. Maka tepat apa yang disampaikan para ulama,
ajaran syi'ah dibangun di atas menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Sesungguhnya akal sehat tidak bisa menerimanya,
tapi kenapa mereka berusaha melestarikannya. Padahal mereka yang mengagungkan
mut'ah tidak rela jika ibu mereka, istri mereka, anak perempuan mereka, atau
saudari mereka dinikahi dengan cara mut'ah sesuai ketentuan dalam kitab-kitab
mereka di atas. Semoga Allah menunjuki kita kepada jalan kebenaran, yaitu jalan
hidupnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, para sahabatnya dari
kalangan shiddiqin, syuhada' dan shalihinsumber;http://psmsubang.blogspot.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)

















